MAHASISWA UPGRIS BERSASTRA!
Oleh : Ihdinar Nur Aliah
Hari Rabu tepatnya pada tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan acara “UPGRIS Bersastra” yang sangat menarik dan begitu hangat untuk di lihat para mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) karena bertepatan dengan Bulan Bahasa. Suasana yang begitu ramai hingar-bingar diikuti oleh mahasiswa baik yang berangkat dengan tertib tepat waktu maupun yang terlambatbukan sedikit saja bahkan banyak. Hal ini justru mengganggu mahasiswa yang telah melihat acara tersebut sejak dari awal. Namun hal ini tidak menjadikan kekurangan suatu acara karena begitu bagus dan menariknya acara tersebut sehingga dapat menbuat mahasiswa terkesan untuk melihatnya.
Acara UPGRIS Bersastra diikuti oleh Rektor Universitas PGRI Semarang sekaligus beliau membuka acara UPGRIS Bersastra ini. Diikuti oleh Kepala Prodi baik PBSI, PBI, dan PBJ. Selain Kaprodi terdapat dekan-dekan fakultas, serta dosen-dosen sampai dengan strata paling rendah mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Penuh dengan khidmat acara diselenggarakan dengan baik hingga berjalan dengan lancer. Akan tetapi karena keterlambatan, saya duduk di tempat yang paling atas di ruang balairung sebelah pojok sisi kanan atas Balairung. Hal ini membuat saya tidak fokus atau konsentrasi saat menonton berbagai macam acara, pertunjukan tari, puidi dan lain-lain.
Sangat tidak khidmat jika ini terjadi pada saya tetapi usaha saya untuk mendapatkan sebuah idea tau informasi dari acara ini tetap saya lakukan yaitu duduk berpindah paling depan walaupun masih tetap di sisi atas Balairung. Beberapa pertunjukan seni yang berhubungan dengan sastra dapatsaya lihat seperti tarian, tarian ini cukup unik dan menarik entah apa yang diceritakan oleh para laon dari tarian ini yang jelas tarian itu begitu memikau mahasiswa. Ada juga tarian seperti balet bernuansa klasik dan romantis. Dilanjutkan dengan puisi yang bertanya-jawab atau berantai yang dipentaskan oleh 7 orang perempuan. Namun saat pertunjukan puisi saya tidak jelas mendengaran pelafalan, intonasi dari prmbacaan puisi tersebut mungkin saja karena tempat duduk saya yang kurang strategis dan pembacaan pusi yang tidak menggunakan mixrofone. Lalu acara selanjutnya terlihat berkesan untuk mahasiswa, saat Bapak Muhdi Rektor Universitas PGRI Semarang naik ke panggung untuk diminta membacakan puisi, akan tetapi justru bapak Muhdi bernyanyi terlebih dulu dengan didiiringi gitar. Begitu sangat memukau penampilan Bapak Muhdi sehingga mahasiswa terkejut dan terheran-heran sampai bertepuk tangan semeriah mungkin. Setelah bernyanyi beliau Pak Muhdi membaca puisi dengan lembut dan sangat menghayati sungguh luar biasa. Maka oleh itu acara UPGRIS bersastra menjadi lebih sangat meriah.
Acara UPRIS Bersastra menurut saya sebenarnya untuk menegembangkan mutu atau kualiatas sastra agar lebih baik lagi sastra yang ada di Indonesia. Khususnya ditunjukan kepada mahasiswa agar lebih peduli terhadap sastra Indonesia apalagi mahasiswa bahasa tentunya dekat dengan sastra bukan?. Untuk itu dalam rangka meningkatkan mutu dan kualiatas sastra kampus Universitas PGRI Semarang dalam acara UPGRIS Bersastra mengundang sastrawan Indonesia yang terkenal hampir semua novel,cerpen,puisi dan karya lain cukup terkenal dan pavorit dikalangan masyarakat baik dalam lingkunagn pelajar maupun lingkungan masyarakat sebut saja beliau dengan nama Trianto Triwikromo sastrawan hebat, tangguh dan terkenal.
Beberapa karya sastra Trianto Triwikromo akan dikupas, dibahas bahkan dikrik secara lebih mendalam agar tau karangan yang ditulis oleh Trianto Triwikromo itu seperi apa. Untuk itu saatnya mencelang acara inti dengan memanggil tiga orang pembahas, pembaca, dan pengkritik yaitu Bapak Nur Hidayah, Bapak Prastyo dan Bapak Widyanuari Eko Putra dengan dimoderatori oleh Bapak Harjito. Pada tema yang akan dibicaran pada inti acara tersebut yaitu 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus serta ! pengarang yaitu Trianto Triwikromo. Acara ini membahas tentang tiga buku yang dikarang oleh Trianto Triwikromo kemudian mendapatkan ulasan, pembahasan, kritikan dari ketiga pembahas tersebut.
Pembahasan berlangsung begitu sangat serius ketiga pembahas bercerita, mengkaji, membahas dengan berbagai macam segi pembahasan. Mulai dari Bapak Nur Hidayah pembahas pertama dilanjutkan oleh Bapak Prasetyo beliau juga merupakan tokoh cerpenis bahkan sastrawan handal, banyak karya sastra miliknya telah diterbutkan lalu dijual di berbagai Toko Buku seperti Gramedia contoh novel yang diterbitkan beliau novel dengan judul “Tarian Dua Wajah”. Pak Prasetyo ini mempunyai banyak ilmu sehingga mampu membuat berbagai macam karya satra. Dalam membahas karya sastra milik Trianto Triwikromo, Bapak Prastyo bergagas bahwa “membuat sebuah karya sastra tidaklah mudah harus mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk membuatnya seperti karya-karya Trianto Triwikromo.
Masih banyak lagi bergai segi yang dikritik oleh Bapak Pras mengenai buku karangan Trianto Triwikromo tentang ide-de, sajak-sajak yang dimiliki oleh Pak Tri. Lalu dilanjutkan oleh pembahas yang ketiga yaitu Bapak Widyanuari Eko Putra. Dalam pembahasan ini Bapak Wid justru lebih menonjolkan bahwa beliau sangat tertarik dengan karya-karya Trianto Triwikromo sehingga saat di panggung Bapak Wid terkesan mempromosikan buku-buku Trianto Triwikromo untuk segera dimiliki oleh para mahasiswa yang berada di berbagai Toko Buku Indonesia. Menurut Bapak Widyanuari Eko Putra “untuk membaca atau bisa menulis tiga buku karangan Trianto Triwikromo harus mempunyai banyak buku seperti buku-buku pedoman terlebih dahulu.” Pesan ini disampaikan oleh beliau agar mahasiswa segera memiliki buku karangan Trianto Triwikromo.
Hanya berapa menit saja Bapak Wid bergegas di depan panggung karena di batasi oleh waktu yang begitu singkat oleh moderator Bapak Harjito. Sungguh pembahasan yang begitu luar biasa sehingga saya tidak bisa memaparkannya secara mendetail. Namun itulah acara inti dari UPGRIS Bersastra. Dengan penuh khidmat mahasiswa mendengarkan berbagai pembahasan yang dikemukakan oleh tiga pembahas tersebut. Hingga pada akhir acara Trianto Triwikromo diberi kesempatan untuk naik paggung menjelaskan tentang dirinya. Suara yang begitu lembut agak lantang terucap dari mulutnya. Pakaian yang bersyal menambah kepercayaan diri Trianto Triwikromo saat di panggung.
Banyak pesan yang disampaikan oleh Trianto kepada semua orang yang berkumpul di Balairung. Acara demi acara berjalan lancer tanpa suatu halangan apapun hingga akhirnya Bapak Muhdi Rektor Universitas PGRI Semarang memberikan sebuah kenang-kenangan berupa penghargaan kepada Trianto Triwikromo. Usai sudah acara terlaksanakan, akhir dari acara ini kemudian semua mahasiswa bergegas meninggalkan Balairung yang megah untuk segera melanjutkan perkuliahan sesuai dengan jadwal seperti biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar