Selasa, 25 September 2018

Autobiografi Dinar

Autobiografi Ihdinar Nur Aliah

Berawal dari krisis moneter pada tahun 1996. Pada tahun tersebut dipimpin oleh Presiden Soeharto. Krisis moneter menjadi salah satu kenagan untuk kedua orang tua Bapak Nur Salim dan Ibu Lutfiyati melahirkan seorang anak ke-empatnya. Pada tahun 1996 saya lahir, tepatnya pada tanggal 23 Oktober 1996. Saya lahir dengan nama lengkap Ihdinar Nur Aliah. Kata dinar diambil dari suasana yang terjadi pada tahun itu. Indonesia mengalami krisis moneter dengan nilai mata uang rupiah yang semakin menurun. Diberi nama dinar yang artinya dinar itu mata uang negara Irak, Kuwait, agar nantinya saat tumbuh dewasa menjadi orang yang beruang, memiliki banyak uang atau bisa disebut orang yang sukses.
Saya lahir di desa Kaliwadas RT 01 RW 03, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Pengalaman saya saat kecil yaitu pernah mengikuti lomba seni lukis di tingkat Taman Kanak-kanak. Menjadi dokter kecil atau mengikuti lomba dokter kecil di tingkat Sekolah Dasar. Saya memiliki hobby atau kegemaran bermain basket. Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bpla basket. Hal itu saya tekuni selama 2 tahun. Saat bermain bola basket rasanya asik, seru sekali hingga pada akhirnya mengikut olimpiade bola basket putri di daerah Slawi. Kegemaran saya tidak berhenti pada tingkat SMP saja namun dilanjutkan waktu Sekolah Menengah Atas (SMA). Adapun riwayat pendidikan saya yaitu TK Pertiwi, SD N 02 Kaliwadas, SMP N 1 Bumiayu, SMA N 1 Bumiayu dan sampai sekarang masih menjadi mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). 
UPGRIS mampu menjadi wadah untuk menampung bakat minat mahasiswa UPGRIS itu sendiri salah satunya yaitu terdapat UKM. UKM adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang terdiri dari beberapa kegiatan-kegiatan mahasiswa seperti bermain bola basket, catur, pencak silat, rohaniah, hingga sastra. Salah satu UKM yang saya ikuti yaitu UKM KIajian Ilmu Apresiasi Sastra. Di UKM KIAS ini saya belajar tentang menulis sebuah karya sastra seperti menulis, membaca, mendengarkan. UKM KIAS terkenal dengan ilmu sastra. Di KIAS selain mendapatkan pembelajaran yang bagus juga setiap minggunya mendapatkan pengajian sastra oleh Pak Prasetyo Utomo. 
Pengalaman saya waktu di UKM KIAS, tiga tahun berturut-turut mengikuti dan mendampingi acara Penerimaan Anggota Baru (PAB) KIAS. Tiga kali berturut-turut acara PAB dilaksanakan di desa Demak, Purwodadi dan Batang. Senang sekali dapat bertatap muka, bertegur sapa dan menjalin kedekatan dengan keluarga UKM KIAS Maupun calon anggota baru UKM KIAS. Namun sekarang ini kehidupan saya yang sudah berbeda dengan sebelumnya mengakibatkan adanya pembatas untuk mengikuti kegiatan UKM KIAS tersebut. Pernikahan saya dilaksanakan pada tanggal 01 September 2018 kemarin, acara tersebut berlangsung pada saat bersamaan magang 3.
Pernikahan ini menjadi awal langkah untuk lebih maju dan memulai kehidupan yang baru dan sesungguhnya. Dengan kesadaran diri telah menjadi sesosok istri maka semua kegiatan yang saya lakukan dulu sekarang dibatasi termasuknya mengikuti UKM KIAS. Hal itu memang wajar adanya karena setelah menikah surga istri sudah berada di kaki suami. Untuk mendapatkan syurganya maka termasuknya menaati, mematuhi apa yang diperintahkan oleh suami sehingga mampu menjadi istri soleha.
Memasuki kehidupan yang sebenarnya tentu tidak menjadi alasan seseorang untuk tetap melakukan hal postif yaitu belajar salah satunya. Mengingat status saya sekarang masih mahasiswa sekaligus sudah menikah maka yang harus saya lakukan adalah melakukan kewajiban keduanya, yaitu belajar untuk menyelesaikan studi hingga wisuda dan menjalani kehidupan rumah tangga. Hal ini kerap dilakukan sampai saat ini sehingga harapan saya mampu menjalani kehidupan yang seperti ini dengan penuh semangat, penuh perjuangan dan tak lupa berdoa kepada sang pencipta agar dilancarkan segala prosesnya, aamiin. 


     

Jumat, 20 Januari 2017

UPGRIS Bersastra

MAHASISWA UPGRIS BERSASTRA!
Oleh : Ihdinar Nur Aliah

          Hari Rabu tepatnya pada tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan acara “UPGRIS Bersastra” yang sangat menarik dan begitu hangat untuk di lihat para mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) karena bertepatan dengan Bulan Bahasa. Suasana yang begitu ramai hingar-bingar diikuti oleh mahasiswa baik yang berangkat dengan tertib tepat waktu maupun yang terlambatbukan sedikit saja bahkan banyak. Hal ini justru mengganggu mahasiswa yang telah melihat acara tersebut sejak dari awal. Namun hal ini tidak menjadikan kekurangan suatu acara karena begitu bagus dan menariknya acara tersebut sehingga dapat menbuat mahasiswa terkesan untuk melihatnya.
          Acara UPGRIS Bersastra diikuti oleh Rektor Universitas PGRI Semarang sekaligus beliau membuka acara UPGRIS Bersastra ini. Diikuti oleh Kepala Prodi baik PBSI, PBI, dan PBJ. Selain Kaprodi terdapat dekan-dekan fakultas, serta dosen-dosen sampai dengan strata paling rendah mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Penuh dengan khidmat acara diselenggarakan dengan baik hingga berjalan dengan lancer. Akan tetapi karena keterlambatan, saya duduk di tempat yang paling atas di ruang balairung sebelah pojok sisi kanan atas Balairung. Hal ini membuat saya tidak fokus atau konsentrasi saat menonton berbagai macam acara, pertunjukan tari, puidi dan lain-lain.
          Sangat tidak khidmat jika ini terjadi pada saya tetapi usaha saya untuk mendapatkan sebuah idea tau informasi dari acara ini tetap saya lakukan yaitu duduk berpindah paling depan walaupun masih tetap di sisi atas Balairung. Beberapa pertunjukan seni yang berhubungan dengan sastra dapatsaya lihat seperti tarian, tarian ini cukup unik dan menarik entah apa yang diceritakan oleh para laon dari tarian ini yang jelas tarian itu begitu memikau mahasiswa. Ada juga tarian seperti balet bernuansa klasik dan romantis. Dilanjutkan dengan puisi yang bertanya-jawab atau berantai yang dipentaskan oleh 7 orang perempuan. Namun saat pertunjukan puisi saya tidak jelas mendengaran pelafalan, intonasi dari prmbacaan puisi tersebut mungkin saja karena tempat duduk saya yang kurang strategis dan pembacaan pusi yang tidak menggunakan mixrofone. Lalu acara selanjutnya terlihat berkesan untuk mahasiswa, saat Bapak Muhdi Rektor Universitas PGRI Semarang naik ke panggung untuk diminta membacakan puisi, akan tetapi justru bapak Muhdi bernyanyi terlebih dulu dengan didiiringi gitar. Begitu sangat memukau penampilan Bapak Muhdi sehingga mahasiswa terkejut dan terheran-heran sampai bertepuk tangan semeriah mungkin. Setelah bernyanyi beliau Pak Muhdi membaca puisi dengan lembut dan sangat menghayati sungguh luar biasa. Maka oleh itu acara UPGRIS bersastra menjadi lebih sangat meriah.
          Acara UPRIS Bersastra menurut saya sebenarnya untuk menegembangkan mutu atau kualiatas sastra agar lebih baik lagi sastra yang ada di Indonesia. Khususnya ditunjukan kepada mahasiswa agar lebih peduli terhadap sastra Indonesia apalagi mahasiswa bahasa tentunya dekat dengan sastra bukan?. Untuk itu dalam rangka meningkatkan mutu dan kualiatas sastra kampus Universitas PGRI Semarang dalam acara UPGRIS Bersastra mengundang sastrawan Indonesia yang terkenal hampir semua novel,cerpen,puisi dan karya lain cukup terkenal dan pavorit dikalangan masyarakat baik dalam lingkunagn pelajar maupun lingkungan masyarakat sebut saja beliau dengan nama Trianto Triwikromo sastrawan hebat, tangguh dan terkenal.
          Beberapa karya sastra Trianto Triwikromo akan dikupas, dibahas bahkan dikrik secara lebih mendalam agar tau karangan yang ditulis oleh Trianto Triwikromo itu seperi apa. Untuk itu saatnya mencelang acara inti dengan memanggil tiga orang pembahas, pembaca, dan pengkritik yaitu Bapak Nur Hidayah, Bapak Prastyo dan Bapak Widyanuari Eko Putra dengan dimoderatori oleh Bapak Harjito. Pada tema yang akan dibicaran pada inti acara tersebut yaitu 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus serta ! pengarang yaitu Trianto Triwikromo. Acara ini membahas tentang tiga buku yang dikarang oleh Trianto Triwikromo kemudian mendapatkan ulasan, pembahasan, kritikan dari ketiga pembahas tersebut.
          Pembahasan berlangsung begitu sangat serius ketiga pembahas bercerita, mengkaji, membahas dengan berbagai macam segi pembahasan. Mulai dari Bapak Nur Hidayah pembahas pertama dilanjutkan oleh Bapak Prasetyo beliau juga merupakan tokoh cerpenis bahkan sastrawan handal, banyak karya sastra miliknya telah diterbutkan lalu dijual di berbagai Toko Buku seperti Gramedia contoh novel yang diterbitkan beliau novel dengan judul “Tarian Dua Wajah”. Pak Prasetyo ini mempunyai banyak ilmu sehingga mampu membuat berbagai macam karya satra. Dalam membahas karya sastra milik Trianto Triwikromo, Bapak Prastyo bergagas bahwa “membuat sebuah karya sastra tidaklah mudah harus mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk membuatnya seperti karya-karya Trianto Triwikromo.
          Masih banyak lagi bergai segi yang dikritik oleh Bapak Pras mengenai buku karangan Trianto Triwikromo tentang ide-de, sajak-sajak yang dimiliki oleh Pak Tri. Lalu dilanjutkan oleh pembahas yang ketiga yaitu Bapak Widyanuari Eko Putra. Dalam pembahasan ini Bapak Wid justru lebih menonjolkan bahwa beliau sangat tertarik dengan karya-karya Trianto Triwikromo sehingga saat di panggung Bapak Wid terkesan mempromosikan buku-buku Trianto Triwikromo untuk segera dimiliki oleh para mahasiswa yang berada di berbagai Toko Buku Indonesia. Menurut Bapak Widyanuari Eko Putra “untuk membaca atau bisa menulis tiga buku karangan Trianto Triwikromo harus mempunyai banyak buku seperti buku-buku pedoman terlebih dahulu.” Pesan ini disampaikan oleh beliau agar mahasiswa segera memiliki buku karangan Trianto Triwikromo.
          Hanya berapa menit saja Bapak Wid bergegas di depan panggung karena di batasi oleh waktu yang begitu singkat oleh moderator Bapak Harjito. Sungguh pembahasan yang begitu luar biasa sehingga saya tidak bisa memaparkannya secara mendetail. Namun itulah acara inti dari UPGRIS Bersastra. Dengan penuh khidmat mahasiswa mendengarkan berbagai pembahasan yang dikemukakan oleh tiga pembahas tersebut. Hingga pada akhir acara Trianto Triwikromo diberi kesempatan untuk naik paggung menjelaskan tentang dirinya. Suara yang begitu lembut agak lantang terucap dari mulutnya. Pakaian yang bersyal menambah kepercayaan diri Trianto Triwikromo saat di panggung.
          Banyak pesan yang disampaikan oleh Trianto kepada semua orang yang berkumpul di Balairung. Acara demi acara berjalan lancer tanpa suatu halangan apapun hingga akhirnya Bapak Muhdi Rektor Universitas PGRI Semarang memberikan sebuah kenang-kenangan berupa penghargaan kepada Trianto Triwikromo. Usai sudah acara terlaksanakan, akhir dari acara ini kemudian semua mahasiswa bergegas meninggalkan Balairung yang megah untuk segera melanjutkan perkuliahan sesuai dengan jadwal seperti biasa.
Berbicara Seni itu Tak-Berujung
Oleh : Ihdinar Nur Aliah

         Sebuah karya akan terlihat unsur estetik yang menarik apabila diperankan atau dipentaskan dalam beberapa karya seperti Seni Teater. Seni Teater selalu menjadi pembahasan yang tidak asing lagi untuk berkarya melalui beberapa gerakan (gesturs) seorang pemain. Sebagai penghibur lara, Seni Teater sangat memberikan dampak-dampak positif yaitu membuat para penonton merasa terhibur dan menikmati setiap alur cerita. Untuk memberikan kesan yang enak dilihat para pemain dalam Seni Teater tergolong dalam pemain yang mampu memberikan eksperi-eksperi yang sedemikian bagusnya.
  Ekspresi-ekspresi inilah yang selalu menjadi bahan utama seorang pemain dalam memerankan sesuai dengan perannya masing-masing. Begitu banyak seni yang ada di Indonesia termasuk dalam kategori Seni Pertunjukan. Apabila Seni dikembangkan di masyarakat atau pun daerah-daerah yang ada di Indonesia maka kehadiran Seni sangat dekat dan erat sekali. Tidak hanya bidang Seni saja akan tetapi bidang-bidang lain akan tumbuh dan berkembang secara dinamis jika masyarakat menyadari akan keberadaan seni. 
          Hampir semua Seni termasuk yang berhubungan dengan karya seseorang kini telah hilang. Pengaruh ini disebabkan karena banyak orang yang berpendapat bahwa berseni itu membuang-buang waktu banyak waktu yang kita lalui hanya berseni maka kita kan rugi. Tidak sepantasnya lagi kita berpendapat seperti itu. Beberapa orang mengira seperti itu karena cenderung berpikir negative akan pengaruh keberadaan seni. Sulit untuk membina golongan orang yang berpendapat demikian. Namun tidak ada salahnya jika belajar menghargai seni berawal dari diri kita masing-masing.
Untuk mempelajari macam-macam Seni saya telah menonton Seni pertunjukan yaitu Teater pada malam hari pukul 07.00 di sebuah ruangan megah Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang pada hari Selasa. Seni Teater dilaksanakan untuk memberikan sebuah gambaran kepada mahasiswa bahwa inilah Seni Teater yang perlu kita tonton denagan penuh kesadaran. 
          Dalam seni teater ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak kecil yang ditinggal ibunya sejak bayi karena sebuah kekecewaan yang begitu mendalam hingga akhirnya Nawang Wulan memutuskan untuk pergi dari Jaka Tarub. Kisah ini sangat menyedihkan untuk dilihat hal yang tidak mungkin terjadi dalam cerita ini ada pada setiap gerakan-gerakan, ekspresi, dialog-dialog antar pemain. Cerita ini sangat mengharukan Nawang Asih adalah seorang anak yang ditinggal ibunya sejak kecil akhirnya sampai sekarang hanya hidup berdua saja bersama Jaka Tarub. Hampir setiap malam bulan purnama jaka Tarub bermimpi akan kehadiran istrinya Nawang Asih. Dengan begitu berharapnya Jaka Tarub selalu mengharapkan Nawang Wulan untuk dating kembali dan melihat Nawang Asih yang sudah tumbuh besar. Para Pemain pada Seni Teater ini sangat kretif sekali dengan menceritakan beberapa kejadian menggunakan alur mundur. Dari cara berpikir para pemain jelas sangat Cerdas dan kreatif untuk membuat penonton merasa kaget dan heran bahwa dibalik yang diceritakan saling berkaitan satu sama lain. Penonton atau pun saya sendiri merasakan bahwa Seni Teater seperti cerita Jaka Tarub sangat layak untuk ditonton. 
          Untuk meningkatkan rasa ingin tahu pembuat naskah menceritakan masa lalu yang mengakibatkan masa yang sekarang. Banyak hambatan dan rintangan untuk mewujudkan sebuah seni agar dipentaskan. Tidak hanya perlengkapan pendungung saja yang diperlukan tetapi kesiapan mental dan kesanggupan para pemain merupakan faktor utama yang sangat mempengaruhi jalannya Seni Teater ini. Kerja sama antar team mengajarkan kita akan kekompakan dan solidaritas dalam sebuah kesatuan pementasan. Hal ini berpengaruh terhadap para penonton bahwa Seni mengajarkan kita untuk memiliki sifat-sifat yang terpuji dalam cerita yang telah dipentaskan. 
          Ada sebuah pesan atau amanat yang disampaikan oleh para pemain dalam seni Teater ini untuk dapat dijadikan tuntunan atau arahan yang baik. Tentu pesan atau amanat yang baik yang kita tirukan adpun hal buruk atau ucapan “kasar” justru perlu kita hindari atau tidak ditirukan. Berhubungan dengan seni dalam cerita Jaka tarub pasti sangat banyak seni-seni yang terkandung di dalamnya. Salah satu contoh seni pada cerita ini yaitu Seni Kriya yang termasuk dalam seni Rupa Terapan.
          Seni Kriya terlihat pada gambar lukisan kehidupan Jaka Tarub yang digambarkan dengan rumahnya yang sanagat kecil dan sederhana bisa dibilang “gubug”. Para pemain seni Teater tentunya jauh-jauh hari telah menganyam atau membuat rumah-rumahan itu dari bahan seadanya yautu jerami yang telah kering. Ada lagi hiasan keadaan yang tertampak di sebuah kali, sebuah batu yang mengelilingi setiap sudut kali membuat bahwa yang Nampak adalah kali yang terisi oleh air. Ada 7 bidadari yang mandi di kali tersebut dengan menaruh selendangnya di atas batu yang pada waktu itu sebagai tempat peristirahatan Jaka Tarub. Hingga pada akhirnya Jaka Tarub mengambil salah satu selendang berwarna kuning yaitu Selendang Nawang wulan yang sekarang telah menjadi seorang mantan istrinya dulu. Karena cerita ini menggunkan alur mundur jadi masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain yang tidak bisa saya sampaikan satu persatu. 
          Dari hal inilah kita dapat melihat bahwa Karya Sastra seperti Seni dapat ditampilkan atau dipentaskan sewaktu-waktu sesuai dengan kubutuhan yang diperlukan. Sebagai bukti kebudayaan orang Indonesia kini Seni Teater telah banyak mendapatkan perhatian lebih dari berbagai pihak. Banyak orang yang mengaplikasikan Seninya melalui ekspresi-eksperi yang ingin disampaikan seperti pementasan drama, seni yang mementaskan gambar seperti seni lukis dan masih banyak lagi seni-seni yang lainnya. Mungkin ini salah satu seni yang bisa saya contohkan yaitu Seni Teater dalam berperan serta melestarikan kebudayaan bangsa dengan cara menonton Seni Teater tersebut. Maka deperlukan generasi-generasi selanjutnya yang harus peduli lagi mengenai keberadaan Seni yang ada di Indpnesia. Dengan begitu kebudayaan Indonesia khususnya seni tidak dikucilkan lagi oleh para kaum perusak.

Mengomentari Esai Raden Rara Wulandari "Keunikan dan Keragaman Seni Daerah"

Keunikan dan Keanekaragaman Seni Daerah
Oleh : Raden Rara Wulandari

          Berkarya sangat lah dibutuhkan  oleh seseorang  yang ingin berkarya  dalam hal berkarya  seseorang berusaha mengeluarkan  kreatifitas -kreatifitas yang di milikinya.Hal ini sanagt penting karena dapat melatih kita untuk mengeluarkan gagasan ataupun ide-ide yang kita miliki.salah satu karya seperti seni dapat di tampilkan melalui seni teater atau drama.Dalam teater maupun drama para pemain sangat di butuhkan untuk memerankan tokoh-tokoh di dalam sebuah cerita. Maka secara tidak langsung seorang pemain harus dapat memperagakan beberapa tingkah laku seorang tokoh di dalam cerita yang di mainkan.seni teater bertujuan untuk menghibur penonton.Di Indonesia seni  sudah  terdapat diberbagai daerah.

          Setiap daerah memiliki seni sebagai simbol unsur kebudayaan daerah tersebut.kita ambil saja contohnya seni teater reog,seni teater reog berasal dari kota ponorogo.Ciri khas  seni dari teater ini adalah topeng yang dikenakan oleh pemain yang berbentuk besar dan tinggi dan berwajah singa.Selain seni itu ada juga seni drama dan tari yang disingkat dengan sebutan’’Sendratari’’. Sebagaimna cerita dalam sendratari disajikan dalam tarian serta di iringi dengan gamelan.Akan tetapi kebetulan saya menyaksikan langsung drama teater yang di adakan oleh kampus Universitas PGRI Semarang pada hari selasa 4 Oktober 2016 pukul 19.00 di gedung pusat lantai 7.Disana saya melihat langsung seni teater drama joko tarub.
          
          Awal cerita drama bertempat di sebuah rumah kecil yang di tempati oleh joko tarub dan anaknya nawang asih.Cerita tersebut mengunakan alur fles back.Dalam teater joko tarub ada 7 orang bidadari yang turun ke bumi untuk mandi di sebuah sungai.mereka melepas slendang dan menaruh selendang tersebut di sebuah batu. Kebetulan di dekat sungai tersebut ada joko tarub yang sedang berburu di hutan dan melihat bidadari yang sedang mandi tetapi joko tarub mengambil  salah satu selendang dari 7 bidadari. Setelah bidadari selesai mandi dan hendak mengambil selendang yang di taruh di atas batu ada salah satu bidadari yang kehilangan selendangnya.Bidadari tersebut bernama nawang wulan ,nawang wulan menyuruh adik-adiknya untuk kembali kekayangan namun nawang wulan berjanji kepada adik-adiknya jika selendangnya sudah ketemu dia akan menyusul adik-adiknya.Namun ternyata setelah di cari kemna-mana selendangnya tidak di temukan dan nawang wulan berjanji kepada dirinya sendiri jika ada seseorang yang menolongnya,jika itu seorang perempuan akan dia jadikan saudara namun jika seorang laki-laki akan dia jadikan suami.
          
          Mendengar ucapan nawang wulan joko tarub berlari pulang kerumahnya untuk mengambil sebuah baju untuk nawang wulan.setelah sampai di sungai kembali joko tarub menghampiri nawang wulan untuk memberikan baju yang d ambilnya di rumah dan bertanya kepada nawang wulan ‘’ apakah benar perkataan mu tentang jika ada seseorang yang menolongmu kalau itu seorang perempuan akan kamu jadiakan saudara dan jika itu laki-laki akan kau jadikan suami.Namang menjawab pertanyaan joko tarub’’ seorang bidadari tidak akan mengingkari janjinya bahwa nawang wualan beenar-benar akan menjadikan joko tarub sebagai suaminya’’.Joko tarub mengajak nawang wulan untuk pulang kedesanya untuk mengajaknya untuk menikah.setelah mereka menikah nawang wulan hamil,hingga nawang wulan melahirkan hidupnya bahagia namun setealah anaknya kira-kira berusia sekitar 2 bulan nawang wulan menitipkan anaknya yang di beri nama nawangsih kepada joko tarub dan kebetulan nawang wulan sedang menanak nasi.Sebelum nawang wulan pergi dia telah berpesan kepada suaminya agar tidak pernah membuka penutup penanak nasinya.Namun suaminya penasaran karena lumbung padi di rumahnya selalu banyak padahal dia makan setiap hari namun tidak pernah berkurang padinya di limbungnya. Namun suaminya tidak mendengarkan ucapan istrinya joko tarup malah membuka tutup penanak nasinya dan alahkah terkagetnya joko tarub karena yang di masak istrinya hanya seuntai padi.

          Tak lama kemudian nawang wulan pulang dari sungai,joko tarub bertanya kepada nawang wulan kenapa kamu menanak nasi hanya seuntai padi saja.Nawang wulan menjawab pertanyaan suaminya apakah kau lupa kalau aku ini seorang bidadari ,kini kesaktian ku telah hilang karena kau telah melanggar janjimu tidak akan membuka tutup penanak nasi itu.Nawang wulan masuk kedalam rumah dan menemukan slendangnya di lubung padi.Dan akhirnya nawang wulan mengetahui bahwa yang mengambil selendangnya adalah suaminya sendiri,nawang wualan marah ke pada joko tarub dan meninggalkan nawangsih dan joko tarub.Nmun sebelum nawang wualan pergi dia berkata jika kelak nawangsih bertanya tentang ibunya bawalah dia ke sunagi ini.Nwang wulan pun pergi meninggalkan joko tawuh dan nawangsih.Dari cerita ini kita bisa mengambil pesan bahwa dua kehidupan yang berbeda tidak akan bisa bersatu.

Teater ini mengajarkan kita semua untuk selalu menerima keadaan kita sepenuhnya tanpa harus berharap yang terlalu berlebuhan seperti joko tarub yang berharap bisa menikah dengan seorang bidadri yang cantik.Dari teater ini pemain berusaha untuk menampilkan kemampuannya sebaik mungkin seperti memerankan dengan gerakan-gerakan yang di inginkan.Maka perlulah sebuah seni teater untuk sealu di kembangkan dengan baik agar teater tidak hilang dari lingkungan masyarakat di sekitar daerah masing- masing.













Menanggapi Esai Raden Rara Wulandari

          Esai yang berjudul “Keunikan dan Keanekaragaman Seni Daerah” oleh Raden Rara Wulandari pada dasarnya sudah melampaui kejelian dan ketelitian seorang penulis dalam menceritakan kembali kisah Jaka Tarub dari awal hingga akhir cerita. Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan beberapa ide tau gagasan cenderung mudah dipahami sehingga tidak menimbulakan suatu kebingunan yang mungkin bisa mempengaruhi pembaca Esai ini. Banyak kata-kata yang sering diulang-ulang menjadikan seorang penulis kehabisan kata-kata. Setiap kata yang dijelaskan oleh raden Rara Wulandari telah banyak dijumpai di dalam suatu media. Bukan karena tulisan atau kreativitasnya yang bagus akan tetapi untuk kedepannya lagi dalam membuat esai bisa lebih baik lagi. Menurut Raden Rara Wulandari kisah Jaka Tarub memberikan kita sebuah inspirasi dan motivasi bahwasannya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini yang bisa terjadi jika yang di atas menghendaki maka terjadilah. Dalam menceritakan kembali cerita Jaka Tarub Rara terlalu berlebihan secara rinci hingga mendetail sekali cerita tersebut disampaikan kembali dalam bentuk narasi. Akan tetapi karena hal ini Raden Rara Wulandari terfokuskan pada satu titik saja yaitu cerita Jaka Tarub yang dengan panjang lebar dia cewritakan. Akan lebih baik jika seorang penulis bercerita layaknya menyangkut pautkan kepada realita yang terjadi di masyarakat.
          
          Masyarakat yang dekat dengan kebudayaan dan adat-istiadat pastilah ingin jika Seni yang ada di Indonesia dapat dikembangkan sebaik mungkin apalagi Seni Teater. Maka sangat perlu kesadaran manusia dalam mengembangkan hal ini. Akan tetapi dalam menyampaikan pendapatnya Raden Rara Wulandari tidak bercerita secara cermat hanya saja mengulang kembali cerita atau kisah Jaka Tarub yang jelas-jelas kita telah mengetahui cerita tersebut sejak kita masih di Sekolah Dasar (SD). Hal ini tentu akan menghambat seorang penulis untuk berpikir secara cermat, Seharusnya seorang penulis dapat mengeluarkan gagasan-gagasannya berupa pendapat berdasarkan pengalaman berbahasa yang dimiliki. Maka sangatlah menarik jika penulis dapat berpikir seperti ini bukan semata-mata berpikir hanya untuk mengingat kejadian atau kisah Jaka Tarub lalu ditulis kembali maka sama saja seperti menulis synopsis atau pun resensi. 

          Harapan dari saya kepada penulis beliau harus lebih mampu dalam bercerita semenarik mungkin sehingga pembaca berniat untuk membaca esai tersebut. Secara keseluruhan sudah baik, dan kronologis. Urutan setiap cerita selalu dijelaskan hingga rinci. Banyak kekurangan dalam menuliskan sesuatu ini maka perlunya latihan-latihan dalam membuat sebuah karya sastra hingga terkesan menarik dan dikatakan berhasil.