Autobiografi Ihdinar Nur Aliah
Berawal dari krisis moneter pada tahun 1996. Pada tahun tersebut dipimpin oleh Presiden Soeharto. Krisis moneter menjadi salah satu kenagan untuk kedua orang tua Bapak Nur Salim dan Ibu Lutfiyati melahirkan seorang anak ke-empatnya. Pada tahun 1996 saya lahir, tepatnya pada tanggal 23 Oktober 1996. Saya lahir dengan nama lengkap Ihdinar Nur Aliah. Kata dinar diambil dari suasana yang terjadi pada tahun itu. Indonesia mengalami krisis moneter dengan nilai mata uang rupiah yang semakin menurun. Diberi nama dinar yang artinya dinar itu mata uang negara Irak, Kuwait, agar nantinya saat tumbuh dewasa menjadi orang yang beruang, memiliki banyak uang atau bisa disebut orang yang sukses.
Saya lahir di desa Kaliwadas RT 01 RW 03, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Pengalaman saya saat kecil yaitu pernah mengikuti lomba seni lukis di tingkat Taman Kanak-kanak. Menjadi dokter kecil atau mengikuti lomba dokter kecil di tingkat Sekolah Dasar. Saya memiliki hobby atau kegemaran bermain basket. Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bpla basket. Hal itu saya tekuni selama 2 tahun. Saat bermain bola basket rasanya asik, seru sekali hingga pada akhirnya mengikut olimpiade bola basket putri di daerah Slawi. Kegemaran saya tidak berhenti pada tingkat SMP saja namun dilanjutkan waktu Sekolah Menengah Atas (SMA). Adapun riwayat pendidikan saya yaitu TK Pertiwi, SD N 02 Kaliwadas, SMP N 1 Bumiayu, SMA N 1 Bumiayu dan sampai sekarang masih menjadi mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
UPGRIS mampu menjadi wadah untuk menampung bakat minat mahasiswa UPGRIS itu sendiri salah satunya yaitu terdapat UKM. UKM adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang terdiri dari beberapa kegiatan-kegiatan mahasiswa seperti bermain bola basket, catur, pencak silat, rohaniah, hingga sastra. Salah satu UKM yang saya ikuti yaitu UKM KIajian Ilmu Apresiasi Sastra. Di UKM KIAS ini saya belajar tentang menulis sebuah karya sastra seperti menulis, membaca, mendengarkan. UKM KIAS terkenal dengan ilmu sastra. Di KIAS selain mendapatkan pembelajaran yang bagus juga setiap minggunya mendapatkan pengajian sastra oleh Pak Prasetyo Utomo.
Pengalaman saya waktu di UKM KIAS, tiga tahun berturut-turut mengikuti dan mendampingi acara Penerimaan Anggota Baru (PAB) KIAS. Tiga kali berturut-turut acara PAB dilaksanakan di desa Demak, Purwodadi dan Batang. Senang sekali dapat bertatap muka, bertegur sapa dan menjalin kedekatan dengan keluarga UKM KIAS Maupun calon anggota baru UKM KIAS. Namun sekarang ini kehidupan saya yang sudah berbeda dengan sebelumnya mengakibatkan adanya pembatas untuk mengikuti kegiatan UKM KIAS tersebut. Pernikahan saya dilaksanakan pada tanggal 01 September 2018 kemarin, acara tersebut berlangsung pada saat bersamaan magang 3.
Pernikahan ini menjadi awal langkah untuk lebih maju dan memulai kehidupan yang baru dan sesungguhnya. Dengan kesadaran diri telah menjadi sesosok istri maka semua kegiatan yang saya lakukan dulu sekarang dibatasi termasuknya mengikuti UKM KIAS. Hal itu memang wajar adanya karena setelah menikah surga istri sudah berada di kaki suami. Untuk mendapatkan syurganya maka termasuknya menaati, mematuhi apa yang diperintahkan oleh suami sehingga mampu menjadi istri soleha.
Memasuki kehidupan yang sebenarnya tentu tidak menjadi alasan seseorang untuk tetap melakukan hal postif yaitu belajar salah satunya. Mengingat status saya sekarang masih mahasiswa sekaligus sudah menikah maka yang harus saya lakukan adalah melakukan kewajiban keduanya, yaitu belajar untuk menyelesaikan studi hingga wisuda dan menjalani kehidupan rumah tangga. Hal ini kerap dilakukan sampai saat ini sehingga harapan saya mampu menjalani kehidupan yang seperti ini dengan penuh semangat, penuh perjuangan dan tak lupa berdoa kepada sang pencipta agar dilancarkan segala prosesnya, aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar